3-0, Chelsea….!!
“Lho, skor dini hari tadi kan 6-5?” Maksud saya bukan itu, 1 yang pertama ada ketika MU memenangkan Community Shield awal musim ini, kedua adalah ketika MU memenangkan Liga Inggris beberapa hari yang lalu dan terakhir adalah ketika MU menang di final Liga Champions beberapa jam yang lalu. Semuanya adalah melawan Chelsea. Jadi 3-0 antara MU dan Chelsea musim ini, hehehe.
Saya mulai senang (menonton) sepakbola sejak masih kuliah di surabaya. Waktu itu tinggal dengan teman-teman yang hampir semua suka sepakbola membuat saya terpengaruh dan ingin ikut menikmati asiknya nonton bola.
Setelah di postingan sebelumnya kita mengetahui bagaimana kita bisa mengetahui suatu bilangan adalah bilangan ganjil atau bilangan genap, kita akan mencoba membuat programnya menggunakan C++. Kalau mau dibuat pseudocode-nya, kurang lebih adalah seperti ini :
Bagi anda yang telah lulus SD tentu saja tidak sulit untuk mengetahui yang mana yang merupakan bilangan ganjil dan yang mana yang merupakan bilangan genap. Misalnya ketika ditanya, “Apakah 10 adalah bilangan genap?”, pasti dengan cepat kita menjawab “Iya”, begitu juga ketika ditanya “Apakah 15 adalah bilangan genap?”, kita akan dengan sigap (kayak tentara aja) menjawab “Tidak”.
Tapi bagaimana kalau ditanya lagi, “Bagaimana anda tahu 10 adalah bilangan genap dan 15 adalah bilangan ganjil”. Dari beberapa pengalaman saya mengajar di pelajaran / mata kuliah Algoritma dan Pemrograman, tidak semua siswa atau mahasiswa bisa menjawab pertanyaan logika ini. Disinilah salah satu awal dari logika kita, dimana logika merupakan kunci dari algoritma.
Tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Jujur saja Hari Kebangkitan Nasional ini tidak begitu berarti bagi saya, tapi tanggal 20 Mei nya tetap spesial karena itu adalah ultahnya calon nyonya, hehehe. Tapi kali ini saya bukan bermaksud membuat post tentang ultah itu.
Semalam, saya menonton televisi yang menyiarkan acara yang katanya begitu meriah dan kalau tidak salah merupakan acara kolosal terbesar sepanjang abad ini di Indonesia serta disiarkan semua stasiun televisi nasional maupun daerah. Sekilas saya lihat (karena sambil ada kegiatan lain, hehe) acaranya memang meriah sekali. Tapi terus terang saya kurang tertarik, karena saya pesimis terhadap kebangkitan bangsa ini.
MotoGP seri kelima di sirkuit Le Mans ini memang membuat saya senang. Sebagai penggemar Valentino Rossi sejak dia masih menggunakan Honda, tentu saja saya senang ketika Rossi menang, apalagi jagoan baru saya bang Lorenzo juga berada di posisi kedua walau ketika naik podium dia masih dibantu dengan tongkatnya. Satu hal terpenting yang membuat saya semakin senang, Stoner semakin terpuruk setelah hanya mampu finish di posisi 16. Semakin terbukti pendapat saya bahwa Stoner juara dunia tahun 2007 lalu adalah lebih karena faktor motor, bukan skill, hehehe.