Belakangan ini, berita tentang mantan presiden RI, Soeharto, selalu menghiasi media, baik cetak maupun elektronik. Termasuk postingan para blogger juga tak jarang yang menjadikan sakitnya Soeharto sebagai bahasan. Ada yang simpati terhadapnya, ada juga yang masih ingin mengadili pak Harto. Lalu bagaimana menurut saya, ah saya sih no comment sajalah. Saya tidak paham hal seperti itu, biarlah yang lebih ahli yang menanganinya.
Tapi, menurut saya, ada pelajaran yang bisa kita ambil dan mungkin luput dari perhatian kita. Orang bali bilang, ada tiga bagian dari kehidupan ini yaitu : lahir (utpeti), hidup (stiti), mati (pralina). Dengan kata lain, bahwa kita semua akan berakhir pada kematian (wuih, serem banget kata ini). Sehebat apapun kita, sekuat apapun, akhirnya ya akan mati juga. Saya tidak bermaksud membahas tentang kematian, karena daripada memikirkan kapan kematian menjemput, lebih baik memikirkan apa yang akan kita isi untuk kehidupan ini, agar hidup lebih berarti.
Soeharto, sang penguasa Orde Baru memang belum menemui ajal, tapi nanti akan terbukti bahwa uang dan kekuasaan bukanlah segalanya, uang dan kekuasaan tak dapat menghalangi kematian menjemput. Saya sering bertanya dalam hati, sebanyak apakah harta yang ingin kita kumpulkan dalam hidup ini? satu juta? satu milyar? triliun? dst… Tak akan pernah ada kata cukup, diakui atau tidak, manusia tak pernah puas dengan apa yang telah dimilikinya, saya rasa ini sifat dasar manusia dan sangat manusiawi. Lalu apa yang seharusnya kita lakukan? Menurut saya sih simple saja, bersyukur, berdoa dan berusaha. Apa yang kita ingin dalam hidup kita ini, ya sudah berdoa dan berusahalah untuk meraihnya, tentu saja dengan jalan yang benar dan tidak merugikan makhluk lain. Lalu apapun hasil dari usaha kita, syukurilah. That’s it..
Catatan : postingan ini bukan bermaksud menasehati, apalagi sok. Layaknya tukang cukur rambut, walaupun pintar mencukur orang lain, tapi tak bisa mencukur rambutnya sendiri dengan baik, dan dia berharap orang lain bisa membantunya. Kita tak akan pernah dapat menatap wajah kita sendiri, dan ketika itulah kita butuh cermin.
10 Comment
selagi hidup lakukanlah hal2 yang membuat hidup menjadi lebih ‘hidup’ (bukan iklan rokok):)
setuju bli made..
Pak Harto lagi… dimana mana pak harto…..C Spasi D…….
udah sekarat masih “berkuasa”
betul Bos, nggak usah pusing2. daripada mikirin pak harto mending mikirin mbak harti, ato nyari harta…
harto = harti = harta?
btw, ini nyoman winardi bukan?
Kita memang punya tanggung jawab utk mengisi hidup kita di dunia ini dengan sebaik-2nya, & berguna utk banyak org. Memang harus sering2 bersyukur agar tidak lupa daratan.
betul sekali, terima kasih kunjungannya
Itulah bedanya orang yang punya harta, kematian pun masih bisa ditunda….(he..he..nggak benar kali ya?)
penundaan yang menghabiskan banyak dana..
*kok jadi mikirin duit orang ya
pak dosen, aku usul judul: Nasib Soeharto di Tangan Tukang Cukur. hahaha..
hwuhauahuahua…. mantap bgt judulnya
Hidup yang tanpa kita sadari ternyata sebagian waktunya hanya dihabiskan dengan sia2 saja.
betewe, saya do’ain ajah bapak mantan presiden kita diberikan yang terbaik oleh Allah swt.
semoga pak harto mendapat karma yg sesuai…
Berusaha lagi, berdo’a lagi, bersyukur lagi, lagi lagi n lagi…
lagi… lagi…
*ketagihan donk
Aku juga bingung mo kementar apa. hehehe..
Berhubung pak Harto sudah wafat, jadi saya jawab “turut berduka cita”
Yang dinanti, yang ditunggu dan yang paling santer ditayang di tv dan dipublis di media cetak maupun elektronik, termasuk postingan para blogger sudah tiba. Selamat jalan..
selamat jalan..
Leave a Reply