Archive for the ‘hindu’
Kesibukan Hari Raya Galungan di Bali
Hari rabu ini umat Hindu di Bali merayakan Hari Raya Galungan, walaupun di Bali hari raya merupakan santapan sehari-hari namun kesibukan menjelang Hari Raya Galungan yang datang setiap 6 bulan sekali ini tetap terasa lebih sibuk dibanding hari raya lainnya. Berikut ini beberapa kesibukan dan kegiatan yang menjadi ciri khas Galungan di Bali.
Kesibukan Para Perempuan
Seperti hari raya lainnya, Galungan juga dirayakan dengan berbagai sesajen dan tentunya membuat sibuk para perempuan, ibu-ibu maupun yang masih lajang, semua sibuk mempersiapkan banten, sesajen, membeli buah dan perlengkapan lainnya. Belum lagi ditambah dengan membuat berbagai kue serta masakan lainnya.
Penjor Galungan
Galungan memang selalu identik dengan penjor, penjor Galungan biasa dibuat oleh kaum lelaki khususnya yang masih muda. Beberapa tahun lalu penjor Galungan di Bali masih dibuat dengan sederhana dan hanya membutuhkan beberapa jam dengan bahan seadanya yang kadang tidak membutuhkan biaya sama sekali. Tapi dasar orang Bali yang identik dengan seni, sekarang penjor sudah disiapkan bahkan sebulan sebelum Galungan dan bisa menghabiskan biaya sampai diatas 1 juta rupiah, hasilnya? Tentu saja bernilai seni yang tinggi, pembuatan penjor ini bahkan sudah lumrah dijadikan lahan bisnis bagi mereka yang seni. Untuk saya, Galungan kali ini menghabiskan biaya 150 ribu untuk penjor, ini termasuk biaya yang paling murah dengan hasil penjor yang paling sederhana di lingkungan saya.
Hari Raya Galungan di Bali
Hari Raya Galungan merupakan hari raya bagi umat beragama Hindu. Di Bali biasanya hari raya Galungan dirangkaikan dengan hari raya Kuningan. Urusan hari raya bisa dikatakan umat Hindu di Bali memiliki segudang hari raya, bayangkan saja di Bali bahkan setiap 15 hari sekali ada hari raya walaupun pelaksanaannya tidak semeriah hari raya Galungan yang paling meriah di Bali. Walaupun hari raya Galungan belum diakui oleh pemerintah Indonesia dengan menjadikannya sebagai hari libur nasional, tetapi jangan heran bahwa di Bali hari raya Galungan terasa lebih meriah dibanding hari raya Nyepi.
Sebenarnya umat Hindu di Bali memiliki dua jenis hari raya yaitu berdasarkan sasih (bulan Hindu) dan berdasarkan wuku (minggu, 1 wuku = 7 hari). Hari raya Galungan merupakan hari raya yang berdasarkan wuku, yaitu jatuh pada hari Buda (rabu) Kliwon ,Wuku Dungulan. Banyaknya wuku (minggu) adalah 30 dimana setiap wuku lamanya 7 hari. Jadi hari raya Galungan ini datangnya setiap 210 hari sekali. Selain hari raya Galungan ada banyak hari raya lainnya yang berdasarkan wuku termasuk hari raya Kuningan.
Tari Pendet Bali
Tari Pendet belakangan ini sedang menjadi topik hangat gara-gara Malaysia katanya mengklaim Tari Pendet yang aslinya adalah murni merupakan tarian dari Bali, Indonesia. Saya sendiri belum melihat klaim yang katanya dilakukan oleh Malaysia itu, kalau tidak salah Malaysia menjadikan Tari Pendet sebagai salah satu bahan iklan “Visit Malaysia” negara mereka. Dan ini sudah ke sekian kalinya Malaysia melakukan hal seperti ini terhadap kebudayaan Indonesia.
Bangsa Indonesia pun beramai-ramai mengecam Malaysia, termasuk di internet melalui blog, berita, situs jejaring sosial dan lainnya. Sungguh ironi memang, kita begitu marah ketika milik kita diambil, tapi kita sendiri seringa tidak begitu peduli dengan harta warisan leluhur kita. Lalu ini salah siapa? Jelas Malaysia salah dalam hal ini, tetapi memang ada baiknya juga kita introspeksi diri.
Hari Raya Saraswati – Hari Ilmu Pengetahuan
Hari raya Saraswati merupakan hari raya dalam agama Hindu. Hari raya saraswati diperingati sebagai hari “Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati” (ilmu pengetahuan). Hari raya saraswati diperingati setiap 210 hari atau 6 bulan sekali (dalam kalender hindu, 1 bulan = 35 hari), yaitu pada Saniscara (Sabtu) Umanis (Legi), Wuku Watugunung yang merupakan Wuku terakhir.
Menurut ajaran Hindu Saraswati adalah Dewi (istri) Dewa Brahma. Dewi Saraswati adalah Dewi Ilmu Pengetahuan yang merupakan pelindung/ pelimpah pengetahuan, kesadaran (widya), dan sastra. Berkat anugerah Dewi Saraswati, kita menjadi manusia yang beradab dan berkebudayaan. Dewi Saraswati digambarkan sebagai seorang wanita cantik bertangan empat, tangan-tangan tersebut memegang Genitri (tasbih) dan Kropak (lontar). Yang lain memegang Wina (alat musik / rebab) dan sekuntum bunga teratai. Di dekatnya biasanya terdapat burung merak dan undan (swan), yaitu burung besar serupa angsa (goose), tetapi dapat terbang tinggi.



