i’m unique
Dilarang Mendebat Polisi!!
{ daily } { }
27
April
2008

Setelah membaca postingan ini, saya jadi semangat lagi untuk menceritakan pengalaman saya berurusan dengan polisi beberapa minggu yang lalu. Waktu itu kalau nggak salah hari senin, kejadiannya di perempatan jalan di ujung barat Jln. Gunung Sanghyang di Kerobokan.

Tapi perlu diketahui tulisan ini bukanlah untuk sengaja menjelek-jelekan polisi yang notabene seharusnya melindungi dan menjadi sahabat masyarakat, karena dari semua pengalaman saya, polisi lebih banyak memberikan sesuatu yang kurang mengenakkan bagi saya.

Oke, ceritanya begini. Sekitar pukul 7 pagi dimana lalu lintas cukup padat, saya datang dari arah barat perempatan Kerobokan tersebut. Di tengah perempatan itu memang ada sebuah pelinggih. Dan di depannya ada seorang petugas polisi yang berdiri sambil sesekali mengatur lalu lintas.

Ketika lampu hijau menyala, saya pun melaju pelan seperti biasa. Saya datang dari barat dan akan lurus ke timur menuju denpasar. Karena lalu lintas agak padat, saya maunya lewat sebelah kanan pelinggih tersebut. Saya sudah biasa seperti itu (lewat sebelah kanan kalau lalu lintas ramai). Sekedar diketahui, disana tidak ada tanda sama sekali dilarang melintas dari sebelah kanan. Dan hal itu sudah sangat biasa. Bahkan hampir setiap hari sebelumnya saya malah melihat petugas menyuruh kita lewat kanan pelinggih agar lalu lintas lebih lancar (karena jalannya sempit).

Kembali ke cerita saya, petugas polisi itu lalu menyetop saya dan dengan sangarnya berkata : “Hey kamu, lewat sana!!”. Polisi itu menyuruh saya tetap lewat kiri, padahal menurut saya itu malah akan membuat jalan bertambah macet. Karena kaget setengah mati (hiperbola) saya pun berhenti dan mencoba bertanya : “Kenapa nggak boleh lewat sini pak? Kan tidak ada tanda larangan?”.

Pak Polisi : “Kamu ini melawan aja, cepat tunjukkan SIM dan STNK!”

Lho, saya tambah kaget lagi, kenapa pertanyaan saya malah dijawab dengan bentakan dan menyuruh saya mengeluarkan surat2. Saya turuti saja dan saya tunjukkan apa yang diminta polisi ini. Lalu dia berkata lagi : “Kenapa kamu mau lewat kanan?”

Saya : “Kemarin-kemarin memang sering saya lewat kanan kok pak, lagipula kan tidak ada tanda larangannya.”

Polisi : “Itu kan waktu tidak ada petugas!”

Saya : “Ada kok pak, malah petugas itu yang menyuruh”

Polisi : “Kamu ini masih melawan saja, kalau kamu nggak terima saya tilang saja, ikut saya”

Lho, kok jadi begini, mungkin bapak ini belum sarapan tadi pagi, hingga jadi emosian, begitu pikir saya dan berusaha tenang sambil mengikutinya ke seberang jalan. SIM dan STNK saya masih dipegang oleh polisi ini. Dia pun mengulangi kata-katanya sambil mengeluarkan surat warna merah dan bersiap menyalin data saya. Takut kena tilang dan yakin dengan diri tidak bersalah, saya pun mencoba bertanya lagi : “Kalau boleh saya tahu, kenapa saya mau ditilang pak? Salah saya apa?”

Polisi : “Tadi katanya kamu nggak terima, saya tilang saja.”

Saya : “Kapan saya bilang nggak terima pak?”

Polisi : “Itu dari tadi kamu melawan terus.”

Saya : “Saya kan bertanya pak.”

Polisi : “Terus mau kamu apa sebenarnya.”

Saya : “Saya bertanya pak. Dan kalau boleh saya minta, bapak jangan bentak-bentak begitu memberitahu saya.”

Polisi : “Emang menurut kamu saya membentak? Ada sekian banyak orang yang lewat disini, apa menurut kamu saya harus ngertiin mereka semua?”

Saya diam saja dan sedikit tertawa dalam hati, maunya sih bilang “itu kan urusan bapak” tapi takut dia tambah emosi. Akhirnya pembicaraan dan pun selesai dengan damai, SIM dan STNK saya pun dikembalikan. Dan polisi ini berubah 180 derajat, lemah lembut serta tidak mengatakan “kamu” lagi, dia memanggil saya “gus de”. Hampir saja saya tertawa mendengar panggilan buat saya.

Inilah pengalaman terakhir saya dengan polisi, sebenarnya waktu berdebat itu, bibi saya yang rumahnya di sebelah sempat melihat saya dan bertanya ada apa, tapi saya bilang tidak apa-apa, tidak ada masalah. Dalam hati saya berpikir, bisa saja saya telepon paman yang seorang polisi militer atau paman yang satunya lagi yang tugas di polda dan rumahnya tak jauh dari situ. Tapi saya rasa masalah seperti ini bisa saya selesaikan sendiri dan pasti malu saya kalau hanya urusan kayak gini masih minta tolong.

Polisi ini memanggil saya “gus de” mungkin maunya sok akrab karena tahu rumah saya juga tak jauh dari kejadian ini. Kesimpulan terakhir saya, polisi yang namanya “Setiawan” ini memang masih muda, badannya pun gede dan kekar, tapi dia emosian. Main marah dan maunya menilang aja.

Saran saya buat para polisi lalu lintas, terutama yang masih muda. Tolong jaga emosi anda, ingat, masyarakat itu bukanlah musuh yang bisa dibentak-bentak dan dimarahin. Walaupun mungkin kita melanggar atau pun bersalah di jalan, polisi sama sekali tidak berhak marah dan membentak seperti pengalaman saya ini. Masyarakat pengguna jalan bukanlah seperti anak kecil yang bisa dibentak-bentak seperti itu. Kalau polisi berdalih bahwa mereka juga manusia dan punya emosi, ya kalau tidak bisa mengontrol emosi, bagaimana mau bertugas melayani masyarakat. Huh, cape deh..

Most Commented Posts

11 Comment

LNK
LNK
April 27th, 2008 at 10:21 pm

Makanya jangan melanggar, walaupun gak ada rambu yang mengatur. Umumnya dimana-man memang lewat sebelah kiri Bos… :D
Perkecualian kalo polisinya yang nyuruh lewat sebelah kanan.

Tapi inisiatif Anda untuk mengurangi kemacetan malah jadi diskusi yang mengasyikan kan?

*Yang pengen jadi polisi, biar bisa bentak2 orang*

iya deh, ampun pak.. ampun….
hwahuahuahua

devari
April 28th, 2008 at 10:12 am

wah bilang nae gini: pak, paman saya juga anggota :)

hehehe, lek ati bli, bawa-bawa nama keluarga nanti :-)

rey
April 28th, 2008 at 11:27 pm

patuhi aturan itu yang terbaik :)) cmiiw

yup :-) you are not wrong

kupitcool
April 28th, 2008 at 11:52 pm

itu khan daerah kekuasaan mu wirrr…….:))

emangnya jaman penjajahan, pake daerah kekuasaan? hwahuhahua

anton
April 29th, 2008 at 3:25 am

iya tuh. udah2 capek kita bayarin, eh, polisinya malah ajum2. dasar!

mungkin dia tumben jadi polisi, hehehe
biasanya yang masih muda memang agak ajum gitu deh, ini bukan pertama kalinya saya bermasalah ama korps baju cokelat, tp males ah cerita, nanti kena UU ITE

wox
April 30th, 2008 at 12:31 am

saya seringlah bentak2 polisi,rugi om gak bentak2 balik!
yg pasti kita sudah pasti kena duit kalo dah diberhentiin ma polisi! dulu sya juga gitu… sya yakin benar2 gak salah! polisi kalah debat dengan saya,akhirnya senjata dia… buktikan di pengadilan kalo sy gak bersalah! edan tenan!ya mana mungkin? dan ujung-ujungnya tetep duit… maknyus… gak makan sehari aq!
polisi oh polisi… riwayatmu kini…

males juga kalau bentak balik, nanti malah jadi perkara

nyoman
April 30th, 2008 at 1:42 am

wah minggu lalu saya juga kena polisi di perempatan ini, karena menerobos lampu kuning, untunglah bisa selesai dengan uang 15000

wah, lumayan buat pak polisi, bisa buat beli nasi be guling utk makan siang..

btw, jangan2 yang saya lihat beberapa hari yg lalu itu anda :D

ipoenk
May 1st, 2008 at 7:55 pm

Wah kalo saya di situ udah tak bantuin pak ngelawan om polisinya …. hehehehe

hehe, jadi ngerepotin orang lain

Tanggu
May 2nd, 2008 at 9:50 pm

bentak balik aza bozz, bilang klo anda keluarganya Pak Mangku…!!! (pasti pak polisinya ngira Pak Mangku Pastika, padahal keluarga Pak Mangku Puseh, Dalem, Desa) :D

hush! nanti dikira saya tim suksesnya pak Mangku, hihihi

ady gondronk
May 3rd, 2008 at 2:29 am

Saya udah ilfill duluan kalo ngomongin polantas.
lebih banyak mengecewakan daripada mengayomi masyarakat…

(sory lo ya…,bukannya anti ama polantas,tp pengalaman lebih banyak dirugikan)

saya juga merasa seperti itu :-)

sapimoto
June 18th, 2008 at 10:59 pm

Hehehehehe….
Pelayanan prima susah diterapkan, apalagi kalau orangnya udah punya dasar mempunyai kadar emosi tinggi…

Memang emosian, apalagi dengan orang yg kelihatan mau melawan.

Leave a Reply