Pertemuan Terakhir
Siang ini aku menemuimu dikantin belakang sekolah, seperti permintaanmu tadi pagi waktu kita ketemu di depan kelasku. Suasana kantin tak ramai seperti saat jam istirahat kedua tadi, hanya beberapa teman yang berlalu lalang menuju tempat parkir di sebelah kantin.
“udah lama Ka?“, sapamu dengan sedikit senyum yang tertahan. Aku tahu kamu masih berusaha tersenyum, walaupun sudah pasti kabar yang kau bawa bukanlah kabar baik untukku.
“nggak kok..” jawabku sekenanya, aku berusaha menjawab lebih banyak namun lidah ini terasa kelu. Aku memang tak bisa menyembunyikan rasa khawatirku, walaupun sebenarnya aku sudah siap menerima segala kata darimu saat ini. Hari ini adalah hari terakhir kita datang ke sekolah ini sebagai siswa, esok hari kita adalah alumni sekolah ini. Pertemuan dengan beberapa sahabat tadi mungkin akan menjadi yang terakhir kalinya di sekolah ini, entah kapan bisa berjumpa lagi. Terutama bagi sahabat yang memutuskan untuk melanjutkan studi ke luar pulau, seperti mu…
Setidaknya itulah rencana yang kau ceritakan belakangan ini dan membuatku tak kuasa memikirkan kelanjutan cerita cinta kita. Ditambah lagi dengan keadaan keluargamu yang tak bisa menerimaku, lengkaplah sudah rintangan yang kuhadapi. Lama kau tak bicara, aku bisa membaca makna pada wajahmu, bagaimanapun kau menyembunyikannya.
“lalu, apa keputusanmu?” tanyaku langsung menuju pada topik pembicaraan kita yang sebenarnya. Aku memang tak suka basa-basi belakangan ini. Bukannya aku berubah perasaan terhadapmu, tapi keadaan memang seperti itu, dan aku tak bisa berakting untuk menutupi perasaanku.
“sepertinya kita akan berpisah, entah untuk berapa lama, tapi aku ingin hubungan ini tetap dilanjutkan, di dunia ini tak ada yang bisa menggantikanmu, aku ingin kamulah yang nanti menjadi pendampingku di kursi pelaminan di pernikahanku kelak“. Begitu kalimat yang terucap dari mulutmu, bagiku itu terdengar seperti rayuan dan pembohongan terhadap diri sendiri. Sekali lagi, aku tak suka dan tidak bisa berbohong pada diri sendiri. Kita sama-sama tahu keadaan masing-masing. Orang tuamu sudah pasti menyuruhmu melanjutkan kuliah di ibu kota dan aku akan tetap disini di kota kecil ini. Lanjut kuliah atau tidak aku belum tahu. Ekonomi keluargaku tak mendukungku untuk hal itu, dan itu juga yang menjadi alasan utama bagi orang tuamu untuk memisahkan kita.
“aku senang mendengarnya, dan aku juga sudah mengambil keputusan, kita akan berpisah dalam cinta juga“. Aku tak ingin mengekangmu, dan jujur aku juga mendukungmu untuk kuliah setinggi mungkin. Jangan sepertiku, biarkan aku disini menjalani kehidupanmu. Aku percaya pada cinta, tapi cerita cinta kita sangat sulit untuk ditulis dan dilanjutkan kembali, bahkan oleh pujangga sekali pun. Aku bukannya menyerah, tapi aku lebih ingin percaya pada realita, dan kau tahu sifatku itu.
“please…” Kau masih memohon kepadaku, untuk melanjutkan hubungan ini. Padahal kau sendiri sadar bahwa kemungkinan besar kau akan menetap disana selamanya, bersama keluargamu. Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya lagi padamu, berulang kali kukatakan, hubungan ini tak mungkin berlanjut, cukup sampai disini. Aku masih cinta padamu, kau tahu itu, tapi kenyataan berkata lain. Aku tak ingin kau sakit di kemudian hari dan memperparah keadaan kita, aku tak ingin kau terikat pada lelaki yang tak bisa kau lihat nanti.
“sudahlah, jika kau cinta padaku, kita putuskan hubungan ini, percayalah, masa depan menunggumu, dan disana pasti ada Eka yang lain menunggumu, yang akan menemanimu di pelaminanmu nanti“. Aku memutuskan cerita kita.
“baiklah, akan kubuktikan padamu nanti, bahwa cintaku hanya untukmu“, Kau mengecup keningku dan pergi meninggalkanku dari kantin. Pergi meninggalkanku entah kapan kembali, dan hatiku berkata kau takkan kembali.
“Ina, aku bukan tak percaya padamu… tapi aku percaya pada realita, bahwa kau tak mungkin jadi milikku, selamat jalan sayang.. doaku di nadimu“. Aku bicara sendiri dan kalimat terakhir ini luput dari pendengaranmu. Cinta memang tak harus memiliki, tak usah berpujangga dengan kalimat mesra, kita jalani cerita kehidupan masing-masing.



wuih…. bagoesssss… keyen neh…. teruskan om… kalo dapet inspirasi lagi, ditulis jah…. bagus.. q suka om… hehehe ^_^
@tari
ember…
@tari
ah jadi malu..
niki sira medhuwe lampahan wir? kisah pribadi?
@yudi
fiksi bro.. iseng2 gen
masa lalunya Wira… dengan pacar yang ke-sebelas kan Wir ?
@PanDe Baik
hahaha, sebenarnya ada hubungan dengan kisah cinta dengan mantan pacar terakhir (istri), tp endingnya beda..