Sebagai seorang masyarakat kecil, jangankan di dunia, di indonesia saja kita bukan apa-apa. Kata-kata atau sekedar tulisan ini mungkin tak akan ada artinya di hadapan dunia. Terkait dengan perubahan iklim yang terjadi belakangan ini, bukan hanya para pejabat atau para tokoh dan petinggi di dunia yang merasakan dampaknya, masyarakat kecil seperti saya, petani, buruh dan seluruh makhluk hidup juga ikut menanggung akibatnya.
Iklim berubah, cuaca semakin panas, cuaca yang harusnya biasanya hujan malah jadi musim kemarau. Air sumur yang biasanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari kini jadi kering, sampai saya harus ikut-ikutan tetangga membuat sumur bor. Entahlah, kata orang, dunia semakin mendekati kiamat. Ada benarnya juga, kiamat kini bukan hanya tahayul, kalau perubahan iklim seperti ini tidak ada penanggulangannya, bukan mustahil kiamat yang selama ini hanya ada di film-film akan benar-benar terjadi.
Ini salah siapa? Saya sendiri tidak berani bicara banyak atau beropini macam-macam, apalagi dengan kemampuan dan wawasan yang masih sempit seperti ini. Masalah siapa yang benar atau siapa yang salah, biarlah tidak perlu dibahas, toh hal itu tidak ada gunanya karena yang menanggung akibat dari perubahan iklim ini adalah kita semua.
Apa yang bisa kita lakukan? Mungkin pertanyaan inilah yang lebih tepat diajukan pada kondisi seperti. Salah satu yang paling gampang adalah dengan mencintai lingkungan, sayangi makhluk hidup lain, terutama tumbuhan. Peliharalah tumbuhan sebanyak-banyaknya. Tanam tumbuhan dan pepohonan di lingkungan rumah kita sendiri untuk membuat lingkungan jadi rindang dan sejuk. Berhentilah membabat tumbuhan atau pohon di lingkungan rumah. Bila rumah terasa panas, jangan buru-buru bikin atap atau pasang AC. Tanam beberapa pohon perindang. Korbankan diri untuk lebih banyak menyapu dedaunan yang jatuh dari hutan mini kita di rumah. Bongkar beton yang ada di halaman, ganti dengan rumput, rumput jepang atau rumput mutiara lagi ngetrend di Bali. Selain membuat mata semakin sejuk, air juga menjadi bisa diresap oleh tanah, bukan langsung mengalir ke selokan.
Hal yang kita lakukan memang tidak akan banyak merubah keadaan, tapi saat ini, hanya ini yang bisa kita saya lakukan. Jadi, mari bikin hutan di rumah masing-masing, siapa tahu Amerika mau membayar upeti atas hutan yang telah kita buat.
6 Comment
Hi! Blogwalking! Btw, nice post. Kalo sempat maen2 ke blog saya ya! Thx.
Thx udah mampir. Tadi saya sudah “melali” kesana juga.
terima kasih artikelnya. akhirnya aku punya alasan utk tidak usah bersihin rumput dan tanaman di halaman rumah. biar jadi hutan kayak pak dosen bilang. :))
hehehe, itu sih bakalan jadi hutan beneran pak..
Yach… ntar klo udah pulang ikutan bikin hutan Achhh…
bikin hutan di lumpur lapindo ya…
sayah udah tanam singkong banyak sekali
-.-
jadi hutan singkong dong?
Wah idenya keren banget tuh bikin hutan dirumah, Kalo gt saya mau nanem pohon ganja aja deh di belakang rumah, semoga aja bisa jadi hutan ganja khan lumayan untuk menambah penghasilan *siap-siap nyari bibit ganja….
mau ganti profesi jadi petani ganja ya?
tuh toko purwa kayaknya jual bibit ganja
setujuuuuuuuuuuh!!!!
oke, let’s do it
Leave a Reply