Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) untuk pendidikan di Bali rencananya akan dipotong sampai 61 milyar rupiah. Terjadi penolakan dari Dinas Pendidikan Provinsi Bali. Di daerah lain di luar Bali juga terjadi penolakan. Banyak yang berpendapat bahwa seharusnya bukan biaya di bidang pendidikan yang dipotong, tetapi yang lain misalnya dana bantuan untuk partai politik.
Jawabannya adalah : Tidak!
Catur Brata Penyepian terdiri dari :
Amati Geni (Tidak menyalakan api atau cahaya)
Hari ini banyak hal yang melanggar dari larangan pertama ini. Masuk kamar mandi, secara tidak sengaja saya menyalakan lampu karena agak gelap. Handphone tetap aktif dan ini tentu mengandung cahaya. Dan hari ini saya akan tetap menjalankan tugas ikut membantu kepala lingkungan (banjar) untuk berjaga-jaga di lingkungan banjar karena kebetulan sebagai ketua pemuda dan tentunya membawa senter. Read the rest of this entry »

Ketika malam tergelap datang
Kesunyian pun merasuki jiwa
Dan bumi tertidur
Sehari dalam setahun
Ketika sebuah hari
Dilalui dalam sunyi
Maka dengarlah suara alam
Dan alam pun berbisik
Ketika hari ini
Yang ada hanya suara sepi
Maka kubisikkan
Rahajeng Rahina Nyepi Caka 1930
Kemarin saya sempat sedikit berdebat dengan ajik (ayah) di rumah. Sebelumnya saya bercerita tentang seorang teman saya si P yang katanya melakukan catur brata penyepian dengan penuh, selama 24 jam dia diam di kamar, tidak makan, tidak minum, tidak berbicara dan tidak kemana-mana. Mendengar cerita saya, lalu ajik mengatakan kepada saya “Lalu setelah itu bagaimana, apakah temanmu itu jadi bisa terbang?”.
Terus terang dalam hati saya sedikit panas mendengar pertanyaan si bokap ini. Dalam hati saya menyesalkan perkataannya, kenapa orang tua yang sering makekawin dan tahu banyak sastra melontarkan pertanyaan seperti itu. Ingin sebenarnya saya malah balik bertanya, “memangnya kenapa? apakah setelah mebrata orang harus bisa terbang?”. Tapi saya ingat bahwa katanya orang bijak tidak menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Lalu saya jawab saja, “Ya tidak apa-apa sih, saya cuma cerita”.
Saya kembali berusaha berpikir, mungkin ajik lagi bercanda, karena tidak biasanya seperti ini. Ah, dasar mungkin kejadiannya pas sandikala ditambah perut lagi kosong, jadi darah cepet naik ke otak.
Membaca postingan pak Anton tentang bahasa Bali dan bahasa Jawa disini, memang terdapat banyak keunikan di antara bahasa Bali dan bahasa Jawa ini. Banyak kosakata yang sama namun memiliki tingkatan (halus atau kasar) yang berbeda. Contoh saja kata “asu”, artinya sama-sama “anjing” tetapi di Bali merupakan bahasa halus dan di Jawa sangat kasar. Ada juga kata yang sama namun memiliki arti yang berbeda walaupun masih dalam lingkup yang sama (aduh, susah jelasin), misalnya kata “gedang”, di Bali ini artinya pepaya namun di Jawa artinya pisang.
Bahasa Jawa yang saya ceritakan disini adalah bahasa Jawa yang saya tahu, karena katanya seperti di Bali yang setiap dareah memiliki perbedaan bahasa, di Jawa pun begitu. Ada cerita yang mungkin lucu tentang keunikan bahasa Bali dan Jawa ini, ceritanya si A (orang Jawa) yang merantau ke Bali dan masih belajar bahasa Bali mencoba menyapa orang Bali (si B) yang belum lama dikenalnya.
si A : “kal kija?” (mau kemana)
si B : “cang kemu” (bali = saya kesana, jawa = mulutmu!)
Bisa dibayangkan kesalahpahaman yang terjadi setelah itu.