Hari Raya Galungan di Bali
Hari Raya Galungan merupakan hari raya bagi umat beragama Hindu. Di Bali biasanya hari raya Galungan dirangkaikan dengan hari raya Kuningan. Urusan hari raya bisa dikatakan umat Hindu di Bali memiliki segudang hari raya, bayangkan saja di Bali bahkan setiap 15 hari sekali ada hari raya walaupun pelaksanaannya tidak semeriah hari raya Galungan yang paling meriah di Bali. Walaupun hari raya Galungan belum diakui oleh pemerintah Indonesia dengan menjadikannya sebagai hari libur nasional, tetapi jangan heran bahwa di Bali hari raya Galungan terasa lebih meriah dibanding hari raya Nyepi.
Sebenarnya umat Hindu di Bali memiliki dua jenis hari raya yaitu berdasarkan sasih (bulan Hindu) dan berdasarkan wuku (minggu, 1 wuku = 7 hari). Hari raya Galungan merupakan hari raya yang berdasarkan wuku, yaitu jatuh pada hari Buda (rabu) Kliwon ,Wuku Dungulan. Banyaknya wuku (minggu) adalah 30 dimana setiap wuku lamanya 7 hari. Jadi hari raya Galungan ini datangnya setiap 210 hari sekali. Selain hari raya Galungan ada banyak hari raya lainnya yang berdasarkan wuku termasuk hari raya Kuningan.
Tari Pendet Bali
Tari Pendet belakangan ini sedang menjadi topik hangat gara-gara Malaysia katanya mengklaim Tari Pendet yang aslinya adalah murni merupakan tarian dari Bali, Indonesia. Saya sendiri belum melihat klaim yang katanya dilakukan oleh Malaysia itu, kalau tidak salah Malaysia menjadikan Tari Pendet sebagai salah satu bahan iklan “Visit Malaysia” negara mereka. Dan ini sudah ke sekian kalinya Malaysia melakukan hal seperti ini terhadap kebudayaan Indonesia.
Bangsa Indonesia pun beramai-ramai mengecam Malaysia, termasuk di internet melalui blog, berita, situs jejaring sosial dan lainnya. Sungguh ironi memang, kita begitu marah ketika milik kita diambil, tapi kita sendiri seringa tidak begitu peduli dengan harta warisan leluhur kita. Lalu ini salah siapa? Jelas Malaysia salah dalam hal ini, tetapi memang ada baiknya juga kita introspeksi diri.
Hari Raya Saraswati – Hari Ilmu Pengetahuan
Hari raya Saraswati merupakan hari raya dalam agama Hindu. Hari raya saraswati diperingati sebagai hari “Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati” (ilmu pengetahuan). Hari raya saraswati diperingati setiap 210 hari atau 6 bulan sekali (dalam kalender hindu, 1 bulan = 35 hari), yaitu pada Saniscara (Sabtu) Umanis (Legi), Wuku Watugunung yang merupakan Wuku terakhir.
Menurut ajaran Hindu Saraswati adalah Dewi (istri) Dewa Brahma. Dewi Saraswati adalah Dewi Ilmu Pengetahuan yang merupakan pelindung/ pelimpah pengetahuan, kesadaran (widya), dan sastra. Berkat anugerah Dewi Saraswati, kita menjadi manusia yang beradab dan berkebudayaan. Dewi Saraswati digambarkan sebagai seorang wanita cantik bertangan empat, tangan-tangan tersebut memegang Genitri (tasbih) dan Kropak (lontar). Yang lain memegang Wina (alat musik / rebab) dan sekuntum bunga teratai. Di dekatnya biasanya terdapat burung merak dan undan (swan), yaitu burung besar serupa angsa (goose), tetapi dapat terbang tinggi.
Tajen di Bali
Tajen atau sabung ayam adalah salah satu bentuk perjudian yang bisa dikatakan telah merakyat di Bali. Ini adalah salah satu bentuk judi yang difavoritkan oleh para bebotoh di Bali, terutama yang berada di daerah pedesaan dimana kehidupan masyarakatnya masih belum modern seperti di daerah perkotaan. Karena di perkotaan masyarakatnya lebih sibuk dan mungkin tidak punya waktu untuk melakukan kegiatan semacam tajen. Atau mungkin ada judi lain yang lebih favorit di perkotaan.
Dilihat dari historisnya, tajen sudah ada sejak jaman sebelum kemerdekaan, dari cerita-cerita orang tua yang pernah saya tanyakan, katanya tajen sudah ada dari dulu, “sube uli jaman pis bolong empet” begitu kata mereka. Bahkan tajen ini sudah membudaya dan tidak sedikit yang mengkaitkannya upacara “tabuh rah” dalam agama Hindu di Bali. Seorang paman saya pernah berkata, “kalau memang tajen tidak baik, mengapa sampai ada buku pengayam-ayam”. Buku yang dimaksud adalah semacam petunjuk tentang tajen peninggalan leluhur.



