Jawabannya adalah : Tidak!
Catur Brata Penyepian terdiri dari :
Amati Geni (Tidak menyalakan api atau cahaya)
Hari ini banyak hal yang melanggar dari larangan pertama ini. Masuk kamar mandi, secara tidak sengaja saya menyalakan lampu karena agak gelap. Handphone tetap aktif dan ini tentu mengandung cahaya. Dan hari ini saya akan tetap menjalankan tugas ikut membantu kepala lingkungan (banjar) untuk berjaga-jaga di lingkungan banjar karena kebetulan sebagai ketua pemuda dan tentunya membawa senter. Read the rest of this entry »

Ketika malam tergelap datang
Kesunyian pun merasuki jiwa
Dan bumi tertidur
Sehari dalam setahun
Ketika sebuah hari
Dilalui dalam sunyi
Maka dengarlah suara alam
Dan alam pun berbisik
Ketika hari ini
Yang ada hanya suara sepi
Maka kubisikkan
Rahajeng Rahina Nyepi Caka 1930
Kemarin saya sempat sedikit berdebat dengan ajik (ayah) di rumah. Sebelumnya saya bercerita tentang seorang teman saya si P yang katanya melakukan catur brata penyepian dengan penuh, selama 24 jam dia diam di kamar, tidak makan, tidak minum, tidak berbicara dan tidak kemana-mana. Mendengar cerita saya, lalu ajik mengatakan kepada saya “Lalu setelah itu bagaimana, apakah temanmu itu jadi bisa terbang?”.
Terus terang dalam hati saya sedikit panas mendengar pertanyaan si bokap ini. Dalam hati saya menyesalkan perkataannya, kenapa orang tua yang sering makekawin dan tahu banyak sastra melontarkan pertanyaan seperti itu. Ingin sebenarnya saya malah balik bertanya, “memangnya kenapa? apakah setelah mebrata orang harus bisa terbang?”. Tapi saya ingat bahwa katanya orang bijak tidak menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Lalu saya jawab saja, “Ya tidak apa-apa sih, saya cuma cerita”.
Saya kembali berusaha berpikir, mungkin ajik lagi bercanda, karena tidak biasanya seperti ini. Ah, dasar mungkin kejadiannya pas sandikala ditambah perut lagi kosong, jadi darah cepet naik ke otak.
Di Bali orang sangat percaya dengan adanya ‘dunia lain‘ yang merupakan manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Ada pula kepercayaan yang disebut ‘Dewa Ya Bhuta Ya‘, yang artinya kurang lebih bahwa sesuatu di luar dunia kita bisa menjadi Dewa (baik) dan juga bisa menjadi Bhuta (jahat). ‘Mereka‘ menjadi jahat pada kita kalau kita tidak memperlakukan ‘mereka‘ dengan baik. Ini pula yang mungkin terjadi di tempat saya mencari sesuap nasi saat ini.
Sudah genap seminggu kejadian aneh yaitu kerasukan terjadi pada anak-anak. Dimulai dari hari sabtu minggu lalu, satu orang pingsan, dan setiap hari semakin bertambah, hingga puncaknya hari selasa hingga jumat kemarin masih ada yang kerasukan. Murid-murid yang kerasukan pun orangnya itu-itu saja. Ketika kerasukan pun permintaannya juga sama, dan ketika dihubung-hubungkan telah menjadi suatu cerita apa yang terjadi di dunia ‘mereka‘.
Sekumpulan keluarga ‘mereka‘ telah diganggu tempat tinggalnya, rumahnya dirusak tanpa pemberitahuan, kini ‘mereka‘ tidak memiliki tempat tinggal. ‘Mereka‘ sampai menangis, mengamuk, memohon agar rumahnya dikembalikan atau dibuatkan yang baru walaupun kecil (simbolis) saja. Tetapi beliau pemilik sah tempat ini di dunia nyata tidak berkenan memenuhi apalagi percaya dengan hal itu. Kemudian ‘mereka‘ sampai mengancam akan membuat suatu kejadian di tempat ini, atau ‘mengajak‘ seseorang ke dunia ‘mereka‘.
Hal ini memang dilema bagi saya dan juga teman-teman disini. Karena masalah kepercayaan apalagi agama adalah sesuatu yang sangat sensitif dan juga prinsipil. Sampai tadi pagi akhirnya pemilik sah tempat ini di dunia nyata telah memberikan pengarahan yang isinya kurang lebih begini, “kembalilah bekerja seperti biasa, biarkan tim kami yang akan menangani masalah seperti ini, kalau misalkan ada terjadi lagi, biarlah kami yang menangani dengan cara kami.”
Sebagai seorang yang hanya bekerja dan mencari makan disini, saya dan juga yang lainnya hanya akan “wait and see” sesuai dengan petunjuk beliau, karena memang begitulah seharusnya, ini bukan urusan kami. Saya juga ikut berdoa dalam hati, semoga tidak ada lagi kejadian seperti itu lagi, kalaupun ada, semoga siapa yang bersalah, dialah yang menerima akibatnya.
Sekarang? back to work…

Hari raya Saraswati merupakan hari raya dalam agama Hindu. Hari raya ini diperingati sebagai hari “Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati” (ilmu pengetahuan). Hari raya ini diperingati setiap 210 hari atau 6 bulan sekali (1 bulan=35 hari), yaitu pada Saniscara (Sabtu) Umanis(Legi), Wuku Watugunung yang merupakan Wuku terakhir.
Menurut legenda Saraswati adalah Dewi (istri) Dewa Brahma Brahma. Dewi Saraswati adalah Dewi Ilmu Pengetahuan yang merupakan pelindung/ pelimpah pengetahuan, kesadaran (widya), dan sastra. Berkat anugerah Dewi Saraswati, kita menjadi manusia yang beradab dan berkebudayaan. Dewi Saraswati digambarkan sebagai seorang wanita cantik bertangan empat, biasanya tangan-tangan tersebut memegang Genitri (tasbih) dan Kropak (lontar). Yang lain memegang Wina (alat musik / rebab) dan sekuntum bunga teratai. Di dekatnya biasanya terdapat burung merak dan undan (swan), yaitu burung besar serupa angsa (goose), tetapi dapat terbang tinggi.
Pada hari raya Saraswati, semua pustaka-pustaka, lontar-lontar, buku-buku dan alat-alat tulis menulis yang mengandung ajaran atau berguna untuk ajaran-ajaran agama, kesusilaan dan sebagainya, dibersihkan, dikumpulkan dan diatur pada suatu tempat, di pura, di pemerajan atau di dalam bilik untuk diupacarai. Upacara ini biasanya dilakukan pada pagi hari dan tidak boleh melewati tengah hari. Selain itu dilakukan juga persembahyangan pada hari raya Saraswati untuk memuja Dewi Saraswati sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Di Bali, persembahyangan Saraswati biasanya didominasi oleh para penuntut ilmu yaitu siswa, mahasiswa dan instansi pendidikan serta instansi pemerintahan. Khusus untuk daerah Denpasar, Pura yang biasanya paling ramai adalah dijadikan tempat bersembahyang adalah Pura Jagatnata yang terletak di pusat kota Denpasar. Di pagi hari para generasi muda terutama siswa akan berbondong-bondong menuju sekolah masing-masing untuk bersembahyang bersama kemudian dilanjutkan Pura Jagatnata. Dari pagi hari sampai malam harinya tetap saja masih ada yang datang ke Pura Jagatnata, bahkan di malam harinya biasanya sampai terjadi antrian dan berdesak-desakan untuk masuk ke Pura.
Perayaan Saraswati juga dilakukan dengan “Mesambang Semadhi” yaitu semadhi ditempat yang suci di malam hari atau melakukan pembacaan lontar-lontar semalam suntuk dengan tujuan menemukan pencerahan Ida Hyang Saraswati. Banyak kelompok Dharma Gita atau Pesantian yang biasanya melakukan semadhi, membaca pustaka-pustaka, atau melakukan Dharma Gita atau “kekawin” di tempat-tempat suci, pura atau merajan.
Untuk generasi muda, banyak yang begadang di pantai, bersama teman-temannya. Mereka begadang sampai pagi. Namun muncul kesan negatif dari hal ini yaitu generasi muda terutama para siswa yang masih duduk di bangku sekolah menggunakan kesempatan ini untuk berpacaran.
Keesokan harinya, dilaksanakan Banyu Pinaruh, yakni asuci laksana dipagi buta berkeramas dengan air kumkuman. Setelah melakukan upacara dan semadhi di malam hari, masyarakat akan beramai-ramai menuju pantai dan melakukan Banyu Pinaruh serta mandi di pantai. Pantai yang paling ramai dikunjungi biasanya pantai Sanur.