
As one of Hindu follower who live in Bali, i have to prepare my self for Galungan and Kuningan day. Galungan and Kuningan day will celebrate on 20th and 30th of August this year. Galungan is a holiday for Hinduism, for Hindu follower specially who live in Bali, the celebration of Galungan and Kuningan is more bright than Nyepi day (Silent Day). Besides, Galungan day is not legitimate yet as a national holiday by Indonesain goverment, while Nyepi day (Silent Day) is already legitimate as national holiday in Indonesia.
Galungan day memorable by Hinduism for day of Dharma’s (the truth) victory oppose Adharma (evil). One of the thing that i have to prepare for Galungan is Penjor. Penjor is a tool for Galungan. Penjor is made using a long bamboo and equipped with many decoration. Then Penjor will be placed in front of house start from one day before Galungan Day.
Jawabannya adalah : Tidak!
Catur Brata Penyepian terdiri dari :
Amati Geni (Tidak menyalakan api atau cahaya)
Hari ini banyak hal yang melanggar dari larangan pertama ini. Masuk kamar mandi, secara tidak sengaja saya menyalakan lampu karena agak gelap. Handphone tetap aktif dan ini tentu mengandung cahaya. Dan hari ini saya akan tetap menjalankan tugas ikut membantu kepala lingkungan (banjar) untuk berjaga-jaga di lingkungan banjar karena kebetulan sebagai ketua pemuda dan tentunya membawa senter. Read the rest of this entry »

Ketika malam tergelap datang
Kesunyian pun merasuki jiwa
Dan bumi tertidur
Sehari dalam setahun
Ketika sebuah hari
Dilalui dalam sunyi
Maka dengarlah suara alam
Dan alam pun berbisik
Ketika hari ini
Yang ada hanya suara sepi
Maka kubisikkan
Rahajeng Rahina Nyepi Caka 1930
Kemarin saya sempat sedikit berdebat dengan ajik (ayah) di rumah. Sebelumnya saya bercerita tentang seorang teman saya si P yang katanya melakukan catur brata penyepian dengan penuh, selama 24 jam dia diam di kamar, tidak makan, tidak minum, tidak berbicara dan tidak kemana-mana. Mendengar cerita saya, lalu ajik mengatakan kepada saya “Lalu setelah itu bagaimana, apakah temanmu itu jadi bisa terbang?”.
Terus terang dalam hati saya sedikit panas mendengar pertanyaan si bokap ini. Dalam hati saya menyesalkan perkataannya, kenapa orang tua yang sering makekawin dan tahu banyak sastra melontarkan pertanyaan seperti itu. Ingin sebenarnya saya malah balik bertanya, “memangnya kenapa? apakah setelah mebrata orang harus bisa terbang?”. Tapi saya ingat bahwa katanya orang bijak tidak menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Lalu saya jawab saja, “Ya tidak apa-apa sih, saya cuma cerita”.
Saya kembali berusaha berpikir, mungkin ajik lagi bercanda, karena tidak biasanya seperti ini. Ah, dasar mungkin kejadiannya pas sandikala ditambah perut lagi kosong, jadi darah cepet naik ke otak.