Bagi anda yang telah lulus SD tentu saja tidak sulit untuk mengetahui yang mana yang merupakan bilangan ganjil dan yang mana yang merupakan bilangan genap. Misalnya ketika ditanya, “Apakah 10 adalah bilangan genap?”, pasti dengan cepat kita menjawab “Iya”, begitu juga ketika ditanya “Apakah 15 adalah bilangan genap?”, kita akan dengan sigap (kayak tentara aja) menjawab “Tidak”.
Tapi bagaimana kalau ditanya lagi, “Bagaimana anda tahu 10 adalah bilangan genap dan 15 adalah bilangan ganjil”. Dari beberapa pengalaman saya mengajar di pelajaran / mata kuliah Algoritma dan Pemrograman, tidak semua siswa atau mahasiswa bisa menjawab pertanyaan logika ini. Disinilah salah satu awal dari logika kita, dimana logika merupakan kunci dari algoritma.
Seperti pada postingan saya sebelumnya (dalam bahasa inggris yang acak adut) bahwa untuk belajar pemrograman sebaiknya kita belajar algoritma terlebih dahulu. Menurut saya idealnya belajar algoritma dulu, baru kemudian belajar bahasa pemrograman. Kalau kita langsung belajar bahasa pemrograman tanpa memiliki dasar algoritma yang kuat, maka kemungkinan kita akan menemukan lebih banyak kesulitan. Seperti yang banyak dirasakan oleh teman-teman mahasiswa.
Sayangnya, ada juga kampus yang agak memaksakan kurikulum yang diberikan di kampus. Kalau waktu saya kuliah dulu, mata kuliah algoritma saya dapatkan hingga semester 3. Dan semester 4 baru mulai belajar Pemrograman Berorientasi Objek (Object Oriented Programming / OOP). Namun bisa dibilang saya juga sama sekali belum bisa menerapkan OOP ini.