Tajen di Bali
Tajen atau sabung ayam adalah salah satu bentuk perjudian yang bisa dikatakan telah merakyat di Bali. Ini adalah salah satu bentuk judi yang difavoritkan oleh para bebotoh di Bali, terutama yang berada di daerah pedesaan dimana kehidupan masyarakatnya masih belum modern seperti di daerah perkotaan. Karena di perkotaan masyarakatnya lebih sibuk dan mungkin tidak punya waktu untuk melakukan kegiatan semacam tajen. Atau mungkin ada judi lain yang lebih favorit di perkotaan.
Dilihat dari historisnya, tajen sudah ada sejak jaman sebelum kemerdekaan, dari cerita-cerita orang tua yang pernah saya tanyakan, katanya tajen sudah ada dari dulu, “sube uli jaman pis bolong empet” begitu kata mereka. Bahkan tajen ini sudah membudaya dan tidak sedikit yang mengkaitkannya upacara “tabuh rah” dalam agama Hindu di Bali. Seorang paman saya pernah berkata, “kalau memang tajen tidak baik, mengapa sampai ada buku pengayam-ayam”. Buku yang dimaksud adalah semacam petunjuk tentang tajen peninggalan leluhur.
Saya sendiri sebenarnya heran, tajen begitu membudaya, tajen termasuk kebiasaan sebagian orang bali dan turun temurun. Hampir setiap hari diadakan tajen, biasanya dimulai dari siang sampai sore hari. Di dekat rumah saya pernah menjadi lokasi tajen ini, namun sekarang sudah tidak ada lagi semenjak adanya diperketatnya persoalan judi di Bali. Tajen kini masih ada walaupun masih tersembunyi.
Dari segi hukum, sudah sangat jelas tajen merupakan salah satu bentuk judi dan jelas dilarang. Tapi secara kasat mata, di balik tajen ini ada banyak sekali uang berputar. Lihat saja ada sebuah bangunan yang berhasil di bangun dari hasil kegiatan ini walaupun mungkin susah dibuktikan dan saya sendiri tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Ada juga yang memang berpenghasilan dan menggantungkan hidup dari tajen. Belum lagi pedagang nasi, pedagang makanan lainnya, pedagang pisau, pakaian, dll yang biasa mangkal di tajen untuk berjualan.
Sampai kini di masyarakat tajen memang masih menjadi pro dan kontra, terlepas dari tajen adalah sebuah bentuk permainan judi, kita memang tidak bisa menutup mata bahwa banyak juga orang yang menggantungkan hidup dari adanya tajen. Di Bali, saya melihat walaupun sebenarnya tajen jelas adalah tidak baik, namun masih banyak yang pergi ke tajen untuk berjudi.



Masih ada kah buday seperti itu di bali? Hari gini masih ada seperti itu. Padahal sudah ada Mall, Iternet dan lain sebagainya yang berbau modern.
Sebenarnya tajen itu bukan judi, Tajen itu merupakan salah satu bentuk persembahan saat piodalan biasanya disebut Tabuh Rah dan ada beberapa daerah yang mesti mengadakan tabuh rah contoh Pengerobongan-Kesiman.
Mungkin nak Bali terlalu kreatif sampai hal ini juga dijadikan judi…
Sekarang saya lihat masih banyak ada tajen cuma dibatasi, berapa Saet/Siat berlangsungnya tajen…
@arqu3fiq
mungkin ada keunikan tersendiri dalam judi tajen sehingga para bebotoh menjadi menyukai judi ini..
@ekaBelog
Menurut saya dan sepengetahuan saya tajen beda dengan tabuh rah, dan tajen adalah judi. Tapi bukan berarti saya mendukung ataupun menolak tajen, hehehe.
Tajen dije gen ade
ralat dikit: ritual keagamaan dan tradisi masyarakat Hindu di Bali, bukan agama Hindu karena di Hindu sejauh yang tiang baca g pernah sama sekali membenarkan tajen
@gede_adhy : di dalam ajaran Hindu jelas saja tidak ada yg namanya Tajen..
Budaya bali terkenal diseluruh dunia bukan karena mall, internet atau teknologi lainnya, namun karena keunikan yang mana masyarakat bali mampu menyatukan adat tradisi dgn agama walaupun itu tidak ada dlm agama. Buat argufik :tidak semua modernisasi membawa kita kearah positif contohnya sajadengan banyaknya bangunan tinggi di Bali bukan memperindah bali namun mengotori Bali, Demikian jg dgn banyaknya urbanisasi orang jawayang kumuh ke Bali bali jadi ROMON. justru hal-hal yg begitulah yg perlu kita perbaiki.Tajen boleh saja sepanjang tidakmeresahkan masyarakat. Om Cantih cantih cantih Om.
@Adi : terima kasih atas pendapat anda.. secara umum saya juga setuju..
Kalau tajen kita pandang dari sudut judi (unsur kalah menang dan menggunakan uang) itu sudah jelas dilarang oleh negara dan agama juga tidak membenarkannya.antara tabuh rah dan tajen judi yang dimaksud perlu dijelaskan batas-batsaanya dulu,mana yang dimaksud dengan tajen dan mana yang dimaksud dengan tabuh rah.namun perlu diketahui bahwasannya bali dikenal bukan karena tajen (judi) tapi karena adat budaya bali yang unik.
sekarang apakah kita mau bali dijadikan pariwisata judi atau pariwisata budaya…?walaupun tajen bagian dari budaya bali.
kalau para wisatawan mau berjudi dia pasti akan datang ke macau atau ke cristmas island bukan ke bali.
@adi wati : saya sependapat, perlu dipisahkan dulu antara tajen dalam arti judi dan tabuh rah.
Tajen not a new activity, and can even be said that we are living now here is a much newer or younger than the existence of Tajen. Tajen continued existence of antiquity, is now and will continue to exist until the future..
@sabong tajie : I agree
bagaimanapun tajen tak bisa dilupakan karena menurut lontar siwa tatwa purana, dikatakan bahwa, pada sasih kesanga maka bhatara siwa sedang melaksanakan yoga sehingga para umat manusia patutlah mengadakan persembahan kepadanya dan mengadakan tajen dan nyepi sehari sebagai persembahan kepala sang kala dacasbhumi jika ini tidak dilakukan makan hancurlah dunia ini…
maaf, saya kurang tahu tentang hal itu…
menurut saya tajen itu adalah salah satu vitamin jiwa agar penggemarnya bisa menjadi vit dalam menjalani aktifitas hidup selanjutnya. tajen atau tabuh rah itu sama saja, nga usah di ini itukan lagi. bagi yang senang tajen silakan tajen dan jangan ngeganggu yang ngak seneng, bagi yang ngak seneng jangan juga banyak komentar yang hanya pamerih sensasi. udah lebih baik saling menghargai seperti yang diajarkan oleh Hindu, agar kedamaian terujud.
om santi, santi, santi.